Hey Mama, Teruslah Berlatih Mengendalikan Emosi
![]() |
| sc. dreamstime.com |
Di usianya yang sudah tidak bisa kita anggap sebagai bayi ini, anak juga mulai menunjukkan egosentris "aku" di mana ia ingin menjadi yang utama diperhatikan dan dimengerti orang sekitarnya. Jika ada hal yang tidak sesuai keinginannya maka akan memicu emosinya seperti merengek, marah, menangis, membanting sesuatu, dan merajuk. Hey Mama, jika anak seharian belum makan, tiap disodorin makanan kesukaannya dia menolak. Jika dipaksa ia akan marah bahkan melempar piringnya mungkin. Pas saat itu juga apa yang Mama rasakan? Selain sedih, pasti ada letupan amarah. Jika tidak dikendalikan pasti berlanjut ngomel, "Udah dimasakin susah payah, disiapin semuanya, ehh seenaknya aja gak dimakan yaa."
Satu peristiwa kecil saja (seperti diatas) yang memancing emosi kita untuk marah, akan mempegaruhi mood kita dalam seharian. Semua hal yang ada didepan kita rasanya salah, gak ada yang beres, berantakan dan kacau. Jika sudah demikian apa yang harus Mama lakukan?
1. Tarik Nafas dan Hembuskan Perlahan
Ini adalah cara yang sangat klasik, namun selalu berhasil mengendalikan diri yang sedang marah. Jika sudah dilakukan berulang namun amarah juga tidak kunjung padam, coba ingat kembali bagaiman dulu setelah menikah kalian sangat menginginkan seorang keturunan? Nah, sekarang kalian punya keturuan itu. Anak yang barusan saja membuat kita marah adalah dia yang selalu kita pinta di setiap do'a kita. Susah payah mendapatkannya, mau memarahainya bahkan mengabaikannya hanya karena hal sepele tadi? Berpikirlah lebih jernih lagi.2. Usahakan Berbicara dengan Intonasi Biasa
Hey Mama, jika kalian marah sama anak tolong jangan dibiasakan dengan menggunakan intonasi tinggi. Apalagi dengan mengucapkan sumpah serapah, itu juga jangan. Bukankah ada hadist yang meriwayatkan:"Janganlah kalian mendo'akan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantuu, juga hartamu. Jangan pula mendo'akan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan do'a kalian...." (H.R. Abu Dawud)
Setiap apa yang keluar dari mulut kita adalah do'a. Apalagi do'a ibu adalah do'a yang paling mustajab.
Pernah mendengar kisah Syekh Sudais, imam besar Masjidil Haram? Jika belum, begini ceritanya.
Ketika Syekh Sudais masih kecil, ia sempat membuat kesal ibundanya. Sudais kecil menuangkan pasir ke dalam hidangan yang sudah disiapkan ibunya untuk menjamu tamu.
Sang ibu yang mengetahui kelakuan anaknya kemudian memarahi Sudais kecil.
“Sudais pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…(Masjidil haram)!” ucap ibunya.
Ucapan ibunda Sudais itu lah yang menjadi do'a yang luar biasa untuk Sudais. Pria yang lahir pada tahun 1960 di ibukota Arab Saudi itu tumbuh menjadi anak yang cerdas. Beliau hafal Quran pada usia 12 tahun dan pada usia 24 tahun menjadi imam di masjidil haram.
Ini adalah kisah teladan bagi kita semua para ibu untuk selalu mendo'akan kebaikan bagi anak kita meskipun dalam kondisi marah.
3. Minta Bantuan Suami / Anggota Keluarga yang Lain
Hey Mama, siapa disini yang masih gengsi minta bantuan ke suami atau anggota keluarga yang lain? Demi kewarasan seorang ibu yang 24/7 mengurus anak dan rumah, halal kok jika kita minta bantuan kepada suami. Jangan sampai nunggu suami duluan yang nawarin bantuan, mereka nggak sepeka kita para wanita yang tau-tau nawarin bantuin kalau lihat ada yang kepayahan.Kalau pengen suami bantu, langsung aja bilang "Paa, bantuin cuci piring yaaa." atau mungkin "Paa, temenin anak main dulu mama mau laundry." ini hal yang sangat wajar kok. Jika kalian merasa kelelahan dimalam hari, boleh banget minta suami yang pijitin kita. Jika suami juga merasa kelelahan dalam bekerja diluar, bisa dong kita gantian nawarin diri untuk mijitin balik. Bukankah ini juga bisa mendekatkan bonding kita sebagai pasangan suami istri?
Yang masih gengsi minta bantuan suami, yuuk tepis gengsi itu dan kembalikan kewarasan diri. You're not robot, hanyalah seorang ibu yang sangat wajar merasa capek dan perlu bantuan suami.




0 komentar