• Home
  • About
  • Pengasuhan
    • Tumbuh Kembang Anak
    • Interaksi
    • Kesehatan
  • Pendidikan
    • Literasi Anak
    • Kemampuan Berbahasa Anak
    • Karakter
  • Hey Parents
  • Review
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Hey Mama

Blog seputaran parenting terkait pengasuhan dan pendidikan anak



Pernah dan sering sekali melihat anak yang merengek entah minta apa sama orang tuanya tapi malah disodorin gadget. Wuzzzz, seketika si anak langsung anteng exploring gadget yang diberikan orang tuanya. Anak yang tadinya sangat berisik, tidak bisa diem tapi ketika dihadapkan dengan gadget jadi lebih anteng dan terkendali.

Gadget selalu menjadi jalan pintas bagi orang tua untuk menenangkan anak-anak mereka yang rewel di saat mereka repot, ada keperluan meeting, dsb. Cara ini memang selalu berhasil menghipnotis anak untuk lebih tenang. Tapi bukan cara yang terbaik untuk menenangkan anak saat rewel.

Gadget bukanlah solusi untuk menenangkan anak saat rewel.

Seorang ahli psikologi pun tidak membenarkan penggunaan gadget sebagai baby sitter agar anak diam. Justru yang lebih baik adalah banyak berinteraksi secara nyata dan melakukan stimulasi sensori motoriknya.  Terutama pada anak di bawah usia 2 tahun, interaksi nyata dan memberinya stimulasi sensori motorik penting dilakukan. Karena di usia itu, area sensori motorik harus banyak distimulasi. Aktivitas fisik dan interaksi secara langsung bisa dilakukan misalnya melalui kegiatan bernyanyi dan bermain.

Jadi, memang sudah menjadi fitrah anak jika mereka sangat aktif dan tidak bisa diam. Alih-alih memberikan mereka gadget, sebaiknya parents memberikan kesibukan lain. Misal, membawa mainannya jika bepergian, buku yang menarik, buku tracing and write, sticker book, dan lain sebagainya yang bisa membuat tangan si anak lebih aktif bergerak dan bisa dilakukan secara duduk.

Dalam studi yang diterbitkan di Journal Pediatrics, instruktur pediatrik klinis di Boston University School of Medicine, Dr Jenny Radesky mengatakan ketika orang tua menyodorkan gadget saat anaknya menangis, si anak memang kemudian diam. Tapi, menurut Jenny, coba perhatikan bahwa anak justru asyik dengan apa yang ditonton dalam layar gadget saja. Mereka sudah tidak memperdulikan lingkungannya lagi. Bahkan mungkin jika dipanggil sudah tidak memberikan reaksi lagi.

Mungkin pada awalnya gadget memang bisa menenangkan anak saat rewel dan ini sangat membantu parents, tapi kemudian bisa jadi malah parents yang akan sangat kewalahan karena anak tidak bisa diam jika tidak diberi gadget. Jika gadget dijadikan alat utama untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian anak, mereka akan kesulitan untuk mengembangkan kemampuan regulasi dirinya.

Ketika anak tergantung pada gadget, termasuk televisi, hal tersebut akan membuat perkembangan bahasa dan keterampilan sosial anak menurun. Termasuk juga keterampilan empati, bergaul, memecahkan masalah, kemampuan menjelajah, serta berinteraksi dengan teman sebaya.

Hey parents, play gives children a chance to practice what they are learning. - Mr. Rogers -
Hanya dari bermainlah, anak-anak bisa memiliki kesempatan untuk mempelajari hal baru dalam hidup mereka. Jangan salahkan anak yang tidak bisa berhenti untuk bermain, berlarian, membuat kerusuhan di dalam rumah. Itulah cara mereka belajar dan mengenali lingkungan mereka. Jangan pernah sekali-kali mencoba menyodorkan gadget pada mereka.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 
Hey parents, saat ini adalah saat dimana kecanggihan teknologi menggempur dunia. Dengan perkembangan teknologi yang teramat pesat, kita pun dituntut untuk bisa menaklukkannya. Jika tidak maka kita lah yang akan tunduk pada teknologi.

Beberapa minggu yg lalu beredar kabar mengejutkan dari Jawa Barat tentang adanya anak usia 10 tahun yang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan game dalam smartphone. Bahkan sampai sekarang sudah tercatat ratusan anak yang mengalami gangguan jiwa akibat gawai ini di RSJ Cisarua - Jawa Barat. Semakin hari jumlahnya pun semakin meningkat.

Sebelumnya juga ada berita yang menyebutkan orang tua di Kediri yang dikejutkan atas tagihan telepon pascabayarnya yang mencapai 11 juta akibat belanja game yang dilakukan secara diam-diam oleh anaknya dengan menggunakan identitas Ayahnya. Setelah kasus ini diselesaikan dengan meng-cancel beberapa pembelian tools game tsb, si ibu mengajak para orangtua lainnya agar lebih dekat dan membangun komunikasi dengan anak-anak mereka.

Belakangan ini juga tak jarang kita jumpai balita yang sudah mahir mengoperasikan gadget. Walaupun masih terbatas hanya untuk menonton youtube. Tontonan yang diberikan orang tua dalam youtube itu pun sebenarnya juga masih dalam konten anak-anak. Tapi, durasi menonton itu yang sudah sangat tidak wajar untuk balita. Ketika anak hendak makan, diberikan kebebasan menonton agar bisa duduk diam dan cepat menghabiskan makanan. Ketika menjumpai dokter, agar anak tidak mengacau pun disodorin gadget. Ketika dalam perjalanan wisata atau berkeunjung ke rumah saudara, agar anak tidak bosan disodorin gadget lagi.
Secara tidak sadar, sebenarnya orang tua lah yang pertama kali mengenalkan gadget pada anak-anaknya sendiri bahkan diusianya yang masih sangat dini.

Ketika si anak mulai menunjukkan tanda-tanda candu pada gadget seperti berontak ketika gadget diambil oleh orang tuanya, barulah orang tua sadar selama ini kebiasaan buruk itu telah ia tanamkan sendiri.

Lalu kenapa sih gadget ini bisa secepat itu menarik perhatian anak kita?

Gadget lebih responsif daripada orang tuanya.


Semua gadget saat ini menggunakan fitur touchscreen, dimana cara menggunakannya hanya dengan sentuhan saja sudah bisa mengakses segala kebutuhan kita. Begitu pun ketika anak ingin main game atau pun menonton video kesukaannya, cukup ditowel-towel langsung memberikan hiburan untuk anak-anak.
Pertanyaannya, bagaimana respon parents terhadap anak-anak ketika mereka membutuhkan hiburan untuk bermain dengan parents, apakah parents langsung turun tangan, duduk bersama anak untuk bermain atau membacakan buku kesukaannya? Apa selalu mengatakan "Tunggu, mama repot. Main sendiri dulu!". Hey parents, serepot apapun kalian, tolong jangan membuat anak sampai menunggu hingga jenuh hanya untuk bisa bermain dengan kalian. Jika begini terus menerus anak pasti akan mencari pelarian untuk menghibur dirinya sendiri.


Gadget lebih interaktif daripada orang tuanya


Dengan koneksi internet yang tanpa batas, anak akan dengan mudah mengakses segala keingintahuannya dalam internet. Ketika ingin mengetahui suatu hal, anak tinggal merekam voice note dalam google search dan mereka akan mendapatkan jawabannya. Atau ketika ingin nonton kartun kesukaanya, semuanya sudah ada dalam list most watched dalam you tube. Semua kebutuhan untuk memuaskan keingintahuan mereka hingga hiburan pun bisa mereka dapatkan hanya dari gadget.
Pertanyaannya, bagaimana reaksi parents selama ini jika anak melontarkan pertanyaan cerdasnya? Sudah cukup kah kita memuaskan keingintahuan anak? Atau malah hanya sekedar acuh terhadap setiap hal yg ingin anak tunjukkan pada kita?
"Ma, kenapa kok awan berwarna putih yaa?"
"Ah udah dari sononya begitu."
Coba klo anak tanya pada google atau di you tube. Wah bukan hanya penjelasan aja yg mereka dapatkan tapi juga diberi gambar visualisasi yang jelas dan menarik.


Gadget tidak memiliki emosi dan tidak pernah marah


Gadget akan merespon apapun yang anak butuhkan dengan cepat. Kalau pun anak marah karena mungkin jaringan lemot, gadget tidak akan marah balik sama anak.
Pertanyaannya, bagaimana parents menyikapi anak yang sedang emosi? Bisa menenangkan atau malah balik memarahinya? Jika jawabannya ada pada pilihan kedua, jangan salahkan kalau anak lebih nyaman bermain dengan gadget yang tidak pernah memarahi anak.


Gadget selalu siap diajak main kapan saja


Jika parents meletakkan gadget ditempat-tempat yang mudah dijangkau dan tersedia jaringan internet yang cepat, anak akan lebih tertarik bermain dengan gadget. Karena gadget sudah tersedia dan kapan pun anak butuh hiburan yaa tinggal ambil saja.
Pertanyaannya, kemana kah paremts selama ini hingga anak mudah sekali mengakses gadget di rumah? Sesibuk itu kah hingga menjadikan gadget sebagai teman bermain anak? Hey parents, please open up your mind!! Masa kecil anak kalian yang penuh dengan dunia bermain pasti akan cepat berlalu, mau kalian sia-siakan begitu saja tanpa memberikan bonding yang kuat antara anak dan orang tua dengan cara bermain bersama? Think!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

sc. dreamstime.com
Hey Mama, menjadi orang tua sungguh menguras emosi yaaa. Apalagi jika si anak udah memasuki usia toddler (3-4 tahun), duuh mood kita juga bisa up and down kapan saja. Fase toddler ini juga sering kali dianggap sebagai fase nakal anak. Mengapa disebut demikian? Ya, karena pada masa ini sering sekali terjadi hal-hal yang diluar kendali kita. Masa dimana mobilitas anak juga sangat tinggi seperti, berlari, memanjat, bergelantungan, mengekspresikan diri dengan berteriak, rasa ingin tahunya juga sangat besar.

Di usianya yang sudah tidak bisa kita anggap sebagai bayi ini, anak juga mulai menunjukkan egosentris "aku" di mana ia ingin menjadi yang utama diperhatikan dan dimengerti orang sekitarnya. Jika ada hal yang tidak sesuai keinginannya maka akan memicu emosinya seperti merengek, marah, menangis, membanting sesuatu, dan merajuk.  Hey Mama, jika anak seharian belum makan, tiap disodorin makanan kesukaannya dia menolak. Jika dipaksa ia akan marah bahkan melempar piringnya mungkin. Pas saat itu juga apa yang Mama rasakan? Selain sedih, pasti ada letupan amarah. Jika tidak dikendalikan pasti berlanjut ngomel, "Udah dimasakin susah payah, disiapin semuanya, ehh seenaknya aja gak dimakan yaa."

Satu peristiwa kecil saja (seperti diatas) yang memancing emosi kita untuk marah, akan mempegaruhi mood kita dalam seharian. Semua hal yang ada didepan kita rasanya salah, gak ada yang beres, berantakan dan kacau. Jika sudah demikian apa yang harus Mama lakukan?

1. Tarik Nafas dan Hembuskan Perlahan

Ini adalah cara yang sangat klasik, namun selalu berhasil mengendalikan diri yang sedang marah. Jika sudah dilakukan berulang namun amarah juga tidak kunjung padam, coba ingat kembali bagaiman dulu setelah menikah kalian sangat menginginkan seorang keturunan? Nah, sekarang kalian punya keturuan itu. Anak yang barusan saja membuat kita marah adalah dia yang selalu kita pinta di setiap do'a kita. Susah payah mendapatkannya, mau memarahainya bahkan mengabaikannya hanya karena hal sepele tadi? Berpikirlah lebih jernih lagi.

2. Usahakan Berbicara dengan Intonasi Biasa

Hey Mama, jika kalian marah sama anak tolong jangan dibiasakan dengan menggunakan intonasi tinggi. Apalagi dengan mengucapkan sumpah serapah, itu juga jangan. Bukankah ada hadist yang meriwayatkan:

"Janganlah kalian mendo'akan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantuu, juga hartamu. Jangan pula mendo'akan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan do'a kalian...." (H.R. Abu Dawud)

Setiap apa yang keluar dari mulut kita adalah do'a. Apalagi do'a ibu adalah do'a yang paling mustajab.

Pernah mendengar kisah Syekh Sudais, imam besar Masjidil Haram? Jika belum, begini ceritanya.
Ketika Syekh Sudais masih kecil, ia sempat membuat kesal ibundanya. Sudais kecil menuangkan pasir ke dalam hidangan yang sudah disiapkan ibunya untuk menjamu tamu.
Sang ibu yang mengetahui kelakuan anaknya kemudian memarahi Sudais kecil.
“Sudais pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…(Masjidil haram)!” ucap ibunya.

Ucapan ibunda Sudais itu lah yang menjadi do'a yang luar biasa untuk Sudais. Pria yang lahir pada tahun 1960 di ibukota Arab Saudi itu tumbuh menjadi anak yang cerdas. Beliau hafal Quran pada usia 12 tahun dan pada usia 24 tahun menjadi imam di masjidil haram.

Ini adalah kisah teladan bagi kita semua para ibu untuk selalu mendo'akan kebaikan bagi anak kita meskipun dalam kondisi marah. 

3. Minta Bantuan Suami / Anggota Keluarga yang Lain

Hey Mama, siapa disini yang masih gengsi minta bantuan ke suami atau anggota keluarga yang lain? Demi kewarasan seorang ibu yang 24/7 mengurus anak dan rumah, halal kok jika kita minta bantuan kepada suami. Jangan sampai nunggu suami duluan yang nawarin bantuan, mereka nggak sepeka kita para wanita yang tau-tau nawarin bantuin kalau lihat ada yang kepayahan.

Kalau pengen suami bantu, langsung aja bilang "Paa, bantuin cuci piring yaaa." atau mungkin "Paa, temenin anak main dulu mama mau laundry." ini hal yang sangat wajar kok. Jika kalian merasa kelelahan dimalam hari, boleh banget minta suami yang pijitin kita. Jika suami juga merasa kelelahan dalam bekerja diluar, bisa dong kita gantian nawarin diri untuk mijitin balik. Bukankah ini juga bisa mendekatkan bonding kita sebagai pasangan suami istri?

Yang masih gengsi minta bantuan suami, yuuk tepis gengsi itu dan kembalikan kewarasan diri. You're not robot, hanyalah seorang ibu yang sangat wajar merasa capek dan perlu bantuan suami.

4. Me Time sama Allah

Tidak ada me-time yang lebih baik selain me-time sama Allah. Titipkan semua hal yang diluar kendali kita pada Allah. Mintalah agar Allah selalu menemani setiap langkah kita dalam mengasuh dan mendidik anak. Jangan pernah lelah meminta dan mendo'akan kebaikan untuk diri sendiri, anak, suami dan keluarga kita. Jadikanlah waktu sholah menjadi wkatu yang sangat kalian tunggu-tunggu untuk me-time.



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hey Mama, setiap wanita akan menjadi seorang ibu dari anak-anak mereka. Sebagian sangat menikmati perannya, namun tidak sedikit juga yang merasa tertekan atas peran barunya. Soal kesiapan dan kemampuan bukanlah menjadi suatu persoalan, karena semuanya berproses dan memerlukan waktu.

Menjadi ibu memang dituntut untuk terus belajar untuk menunjang kualitas keluarga yang tengah dibangun. Ada 4 kecerdasan yang harus dimiliki agar menjadi ibu rumah tangga yang baik; kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial,dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan Intelektual (IQ), adalah kecerdasan yang dibangun oleh otak kiri. Kecerdasan ini mencakup kecerdasan linear, matematik, dan logis sistematis. Kecerdasan ini menghasilkan pola pikir yang berdasarkan logika, tepat, akurat, dan dapat dipercaya. Orang dengan kecerdasan ini akan mampu memiliki analisis yang tajam. Setiap persoalan yang ada akan sangat mudah ia tangani, karena kemampuan menganalisanya yang luar biasa. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Washington, perempuan (dalam hal ini ibu), menurunkan gen kecerdasan lebih banyak karena perempuan memiliki dua kromosom X. Ayah hanya memiliki satu kromosom X. Kromosom inilah yang menentukan fungsi kognitif seorang anak. Jadi, kecerdasan intelektual seorang ibu, akan diwariskan kepada anak-anak mereka. 

Kecerdasan Emosional

Sabar dan tidak mudah stress adalah kecerdaan emosional yang wajib dikelola dengan baik oleh seorang ibu. Dalam mendidik dan mengasuh anak, seorang ibu dituntut untuk memiliki kesabaran yang luar biasa tiada batasnya. Anak adalah titipan yang harus dididik dan diasuh dengan penuh kasih. Setiap yang kita ajarkan padanya akan menjadi ladang pahala bagi para orang tua. Untuk sampai pada tingkat kesabaran itu perlu adanya melatih diri menahan emosi. Jika anak bertingkah diluar batas, tarik nafas dalam-dalam dan berpikir jernih. Ingatlah bahwa parents sangat menginginkannya dalam sebuah penantian.

Kecerdasan Sosial

Manusia sejatinya terlahir sebagai makhluk sosial. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang memiliki waktu 24/7 untuk mengurus anak di rumah tidak lantas membuat para ibu terkungkung di dalam rumah hanya bermain dan mendidik anak saja. Tapi, seorang ibu rumah tangga juga harus aktif membangun komunikasi dengan banyak orang. Tidak hanya kerabat dan keluarga, tapi juga para pendidik atau guru sekolah anak, guru les, perangkat desa, praktisi kesehatan keluarga, dsb. Pentingnya menjalin komunikasi dengan banyak orang adalah untuk memudahkan hidup sehari-hari dan menambah wawasan dari berbagai sudut pandang.

Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah pondasi terbentuknya keluarga yang harmonis dan bahagia. Tidak hanya ibu yang dituntut untuk memiliki kecerdasan spiritual, tapi ayah juga. Jika kedua orang tua dekat dengan Tuhannya, maka sudah bisa dipastikan akan memiliki anak yang lebih bahagia dan cerdas. Sederhana saja, lakukan apa yang diwajibkan dan jauhi segala hal yang menjadi larangan-Nya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Hey Mama, setelah minggu lalu kita bahas tentang betapa pentingnya daya imajinasi untuk tumbuh kembang anak (baca juga: Pentingnya Daya Imajinasi Anak), minggu ini akan kita kupas bagaimana sih caranya mengasah daya imajinasi anak dengan cara yang seru dan menyenangkan. Banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk menumbuhkan daya imajinasi anak agar mereka tumbuh dengan pemikiran kreatifnya.

Bacakan Buku Dongeng

Menurut pendapat Kak Seto, anak dapat dirangsang untuk mengembangkan daya imajinasinya dengan mendengarkan cerita dongeng dari orang tuanya. Misalnya dari dongeng yang dibacakan Mama, anak akan membayangkan bagaimana serunya menjadi seorang peri yang cantik, atau bahkan menjadi si kancil yang cerdik. Ajak anak untuk menganalisa bagaiman suatu keajaiban bisa terjadi, bagaimana suatu kejahatan dan niatan buruk akan berakibat buruk juga. Secara tidak langsung dari sebuah dongeng anak akan belajar tentang problem solving dan berpikir kritis.

Bermain Peran

Hey Mama, cobalah untuk bermain peran atau mini drama dengan anak. Berikan peran sebagai seorang profesional dengan dialog yang sederhana. Beri ia kata kunci, misal si anak akan menjadi dokter yang memeriksa & mengobati pasien (Mama). Tuntun untuk cek fisik layaknya dokter yang sering memeriksa anak jika anak berobat hal ini bisa menghidupkan memory-nya. Permainan peran membantu perkembangan emosi anak dan memudahkan mereka bersosialisasi dengan lingkungannya.

Menggambar dan Berkreasi

Dengan menggambar anak akan bermain-main dengan aneka warna dan garis yang beraneka ragam. Anak-anak bebas berexpresi dengan aneka warna pilihannya. Hasil imajinasinya bisa dilihat dari hasil akhir gambar yang mereka buat.

Apresiasi Setiap Karyanya 

Hey Mama, pasti diantara kita pernah mendapatkan hadiah sederhana dari anak kita dari karyanya sendiri. Sepeti anak saya kemarin, ketika kami bermain peran sebagai seorang pedagang ice cream dan saya sebagai pembeli. Anak saya menawarkan sebuah ice cream yang ia buat dari pasir kinestic. Sontak membuat saya untuk mengatakan, "Wow, terimakasih ice cream coklat yang sangat yummy."
Apa reaksi anak saya? Iya, dia terus-terusan membuatkan saya aneka camilan selain ice cream seperti susu, kue coklat, dan jelly. Meski bentuk dan bahannya sama, ternyata dalam imajinasi anak bisa berubah jadi apapun yang mereka mau.
Dengan sebuah penghargaan yang sederhana dengan ucapan terimakasih, anak akan terpacu semangatnya untuk mengembangkan daya pikirnya.

Ajak Mengexplore Tempat Baru

Setiap akhir pekan, Mama bisa mengajak anak-anak untuk berkunjung ke tempat baru yang ramah anak tentunya. Setiap tempat yang baru anak kunjungi akan memberikan pengalaman yang berbeda-beda. Misal, mengajak anak pergi ke pasar ia akan melihat bagaimana para pedagang dan pembeli bertransaksi dan menjumpai barang-barang apa saja yang ada di pasar. Dilain kesempatan, ajak anak berkunjung ke swalayan atau pusat perbelanjaan ditengah kota. Mereka akan menemukan hal lain, bukan hanya untuk jual beli barang namun juga jasa. Disetiap tempat baru yang anak kunjungi akan memperkaya pengalamannya.

Kurangi Larangan

Hey Mama, melarang anak untuk cepat berhenti menangis atau berhenti bergurau bisa mematikan kemampuan untuk mengexpresikan diri dan kemampuan kreativitasanya. Daripada langsung melarang anak untuk menghentikan tingkahnya, alangkah lebih baiknya mengalihkan dan memotivasinya untuk melakukan hal lain. Misal, daripada Mama mengatakan, "Stop nontonin HP, nanti mata adek rusak." lebih baik diganti "Adek, kita main pasir kinestic yuk kita buat jadi istana yang besar, ada kolam renangnya, ada parkiran excavatornya." sambil menunjukkan mainan yang dimaksud.

Itulah keenam cara seru untuk menghidupkan daya imajinasi anak agar tidak mematikan daya cipta dan kreativitasnya. Masa golden age anak harus dioptimalkan dengan memberikan stimulasi yang tepat agar saraf-saraf dalam otaknya terus berkesinambungan. Karena setelah masa golden age, saraf-saraf yang jarang distimulasi akan gugur dengan sendirinya dan menyisakan saraf-saraf yang sering digunakan saja. Anak cerdas dan kreatif adalah mereka yang terstimulasi daya imajinasinya dengan tepat dimasa yang tepat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Hey Mama, Einstein pernah berpendapat bahwa imajinasi itu lebih penting dari pada ilmu pengetahuan. Melalui imajinasi akan tercipta hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Bagi anak-anak yang masih sibuk dengan dunia bermainnya, kerap kali terjadi cetusa-cetusan imajinasi kreatif dalam diri mereka. Daya imajinasi setiap anakpun berbeda satu sama lain. Ada anak-anak yang memiliki daya imajinasi tinggi, namun tak sedikit juga yang memiliki daya imajinasi yang rendah dan monoton.

Pada dasarnya, imajinasi setiap anak berkembang seiring berkembangnya kemampuan berbicara mereka. Dengan imajinasi, anak dapat mengembangkan daya pikir dan daya ciptanya tanpa dibatasi kenyataan dan realitas sehari-hari. Ia bebas berpikir sesuai pengalaman dan khayalannya. Imajinasi akan membantu kemampuan berpikir flexibility, originality pada anak.

Imajinasi akan tampak pada anak ketika anak mengalami masa peka dan kritis. Masa peka merupakan periode dimana anak telah mencapai kesiapan untuk belajar. Seberapapun banyaknya rangsangan yang diterima anak, mereka tidak dapat belajar sampai perkembangan mereka siap untuk melakukannya.  Imajinasi bagi anak sangat penting dalam hubungan pengembangan bidang kognitif, sosial-emosi, bahasa, seni dan moral. Tanpa imajinasi anak tidak dapat melakukan atau berbuat sesuatu, pengetahuan mereka terbatas pada yang dicontohkan guru. Imajinasi juga sangat menentukan pengembangan kreativitas anak.

Hey mama, ketahuilah pentingnya mengembangkan daya imajinasi anak adalah untuk membuat anak terampil bersosialisasi dan berkomunikasi, anak mampu berpikir kreatif dan menganalisa, mampu memperkaya pengetahuan, anak menjadi lebih percaya diri, mandiri dan mampu bersaing, dan yang terakhir memunculkan bakat anak.

Terampil bersosialisasi dan berkomunikasi

 

Menurut Dorothy Singer, seorang profesor psikologi dari Yale University, anak-anak yang aktif berimajinasi cenderung lebih cerdas dan mudah bersosialisasi saat berada di sekolah. Hey Mama, pernah kah kalian melihat anak kalian bermain peran? Ada kalanya mereka memainkan karakter seorang super hero, kadang bertingkah seperti burung yang terbang dengan indahnya, atau mungkin pernah bermain sebagai seorang dokter dan pasiennya? Saat memainkan perannya itu lah anak selalu dibarengi dengan celotehnya bersama teman bermainnya menyelami imajinasi peran mereka. Tanpa disadari, saat itu juga anak telah belajar untuk menyelesaikan suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda sesuai peran yang ia perankan.

Berpikir kreatif dan menganalisa


Berimajinasi membuat anak lebih aktif dan kreatif. Naluri ilmiahnya sebagai seorang ilmuwan yang sering menganalisa hal yang terjadi di sekitarnya pun membuatnya untuk terus berpikir kreatif dan imajinatif. Kemampuannya menganalisa lingkungan sekitar secara imajinatif ini akan sangat membantu masa depannya. Hal ini ditegaskan dari setiap hasil analisanya akan menuntut anak untuk melakukan tindakan-tindakan logis yang imajinatif selanjutnya.


Memperkaya pengetahuan



Melalui sebuah pikiran imajinatifnya anak akan terdorong untuk berpikir kreatif, menganalisa, dan memunculkan sebuah ide. Dalam setiap idenya ini terkadang bermunculan sebuah pertanyaan cerdas dari mereka. Dari sebuah pertanyaan tersebut anak akan terus mencari informasi yang ia butuhkan. Kadang mereka dapatkan dari bertanya kepada orang tua mereka, dari buku yang mereka baca, atau bahkan dari pengalaman bermain. Semakin banyak hal yang ingin anak ketahui, maka semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang bisa ia dapatkan


Jadikan anak lebih percaya diri, mandiri, dan mampu bersaing



Setiap anak yang mendapatkan dukungan dari parents untuk terus menggali daya imajinatifnya akan membuat anak lebih percaya diri terhadap kemampuan berpikir dan bertindaknya. Kepercayaan diri itu juga merupakan bekal untuk membuatnya lebih siap bersaing dengan lawannya yang sepadan. Kesiapan mereka untuk bersaing akan membuatnya lebih mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain.


Menumbuhkan bakat anak


Melalui daya imajinasi anak lambat laun akan mengembangkan bakat dan minat dalam belajar. Jika para orang tua mampu mengetahui seberapa besar kekuatan daya imajinasi anak mereka, maka akan sangat mudah mengenali bakat dan minat anak-anaknya. Semakin awal kita mengenali bakat anak, akan semakin optimal juga stimulasi yang bisa kita berikan kepada anak-anak. 



Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kejujuran adalah nilai kehidupan yang sangat dasar yang harus diajarkan kepada anak sejak dini. Mengajarkan anak untuk berkata dan berbuat jujur akan sangat mempengaruhi kehidupannya dimasa yang akan datang. Penanaman nilai kejujuran pada anak yang dilakukan sangat dini akan sangat membentuk kebiasaan baik hingga anak dewasa nanti.

Kejujuran juga sangat diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam berkeluarga misalnya, kejujuran harus bisa dipelihara dengan baik demi terciptanya keharmonisan dan kehangatan keluarga. Setiap orang tua diharuskan menanmkan sikap jujur kepada anak-anak mereka. Mengingat dimasa sekarang sangat sulit untyuk bisa menilai seseorang apakah jujur benar-benar dari hati atau hanya ucapan saja.

Hey parents, berikut langkah mudah untuk menanamkan kejujuran pada anak-anak:

1. Berikan pemahaman bahwa jujur itu hebat

 

Dari setiap kejujuran yang kita lakukan, biasanya akan ada perasaan tenang dan damai yang mengikuti. Berikan pemahaman ini kepada anak-anak, bahwa setiap kejujuran yang mereka lakukan akan sangat mempengaruhi ketentraman batin mereka. Hanya anak-anak hebat lah yang bisa merasakannya. Hebat, karena mereka telah berkata dan berbuat sejujur-jujurnya.

2. Bacakan buku tentang kejujuran

 

Anak-anak sangat lekat dengan buku cerita yang sangat menarik dan imajinatif. Fasilitasi mereka dengan buku-buku yang menanamkan moral kebaikan seperti kejujuran. Bacakan buku tersebut di waktu sebelum tidur atau pun waktu bermain bersama orang tua. Melalui sebuah cerita anak-anak akan sangat mudah memahami bagaiman caranya berlaku jujur.

3. Beri teladan secara langsung


Sudah sangat menjadi rahasia umum, bahwa anak adalah peniru ulung. Subyek yang ia tiru pastinya adalah orang tua mereka yang sangat lekat dengan kehidupannya. Jadilah teladan bagi anak-anak kalian. Misalnya, jika anak merengek ingin ikut Ayah pergi bekerja. Berikan pemahaman bahwa Ayah akan bekerja dan tidak boleh membawa anak-anak di kantor karena akan sangat berbahaya bagi anak. Jika Ayah pergi jalan-jalan pasti akan mengajak anak-anak. Hindari berbohong seperti, "Ayah hanya pergi sebentar" padahal kenyataanya Ayah pergi bekerja dari pagi hingga sore yang nyatanya itu bukan sebentar.

4. Tanamkan keyakinan bahwa Tuhan Maha Melihat

 

Yakinkan pada anak bahwa dimanapun dan kapanpun mereka berbohong meski tidak ada satupun orang yang tahu, akan selalu ada Allah Yang Maha Melihat dan para malaikat-Nya yang mencatat setiap amalan baik dan buruk kita. Setiap kita pasrahkan dan titipkan anak kita pada Allah, anak kita akan selalu dijaga fitrahnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me

About MeRead More

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Categories

  • bunda
  • candu game online
  • candu smart phone
  • gadget
  • game
  • ibu
  • imajinasi
  • imajinasi anak
  • interaksi
  • karakter
  • kecerdasan emosional
  • kecerdasan ibu
  • kecerdasan intelektual
  • kecerdasan sosial
  • kecerdasan spiritual
  • kejujuran
  • mama
  • parents
  • parents and kids
  • pembiasaan
  • pendidikan
  • pendidikan karakter
  • pengasuhan
  • pola asuh
  • smartphone
  • teknologi
  • tumbuh kembang anak

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2019 (2)
  • Oktober 2019 (4)
  • September 2019 (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Foto saya
fatmawati19
Lihat profil lengkapku

Andalkan Gadget saat Anak Rewel

Pernah dan sering sekali melihat anak yang merengek entah minta apa sama orang tuanya tapi malah disodorin gadget. Wuzzzz, seketika si a...

Cari Blog Ini

Popular Posts

  • (tanpa judul)
    (tanpa judul)
    Dear Ayah Ibu, Seberapa sering kalian mengatakan I LOVE YOU Kepada anak-anakmu? Kalau saya pribadi & suami Sangat sering mengat...
  • Pentingnya Daya Imajinasi Anak
    Pentingnya Daya Imajinasi Anak
    Hey Mama, Einstein pernah berpendapat bahwa imajinasi itu lebih penting dari pada ilmu pengetahuan. Melalui imajinasi akan tercipta hal-h...
  • Ajarkan Nilai Kepemimpinan pada Anak Laki-Laki
    Ajarkan Nilai Kepemimpinan pada Anak Laki-Laki
    Hey Mama, mendidik seorang anak laki-laki sama dengan kita membangun sebuah peradaban. Anak lelaki kita saat ini adalah calon imam kelua...
  • Home

Like Us

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates