• Home
  • About
  • Pengasuhan
    • Tumbuh Kembang Anak
    • Interaksi
    • Kesehatan
  • Pendidikan
    • Literasi Anak
    • Kemampuan Berbahasa Anak
    • Karakter
  • Hey Parents
  • Review
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Hey Mama

Blog seputaran parenting terkait pengasuhan dan pendidikan anak



Pernah dan sering sekali melihat anak yang merengek entah minta apa sama orang tuanya tapi malah disodorin gadget. Wuzzzz, seketika si anak langsung anteng exploring gadget yang diberikan orang tuanya. Anak yang tadinya sangat berisik, tidak bisa diem tapi ketika dihadapkan dengan gadget jadi lebih anteng dan terkendali.

Gadget selalu menjadi jalan pintas bagi orang tua untuk menenangkan anak-anak mereka yang rewel di saat mereka repot, ada keperluan meeting, dsb. Cara ini memang selalu berhasil menghipnotis anak untuk lebih tenang. Tapi bukan cara yang terbaik untuk menenangkan anak saat rewel.

Gadget bukanlah solusi untuk menenangkan anak saat rewel.

Seorang ahli psikologi pun tidak membenarkan penggunaan gadget sebagai baby sitter agar anak diam. Justru yang lebih baik adalah banyak berinteraksi secara nyata dan melakukan stimulasi sensori motoriknya.  Terutama pada anak di bawah usia 2 tahun, interaksi nyata dan memberinya stimulasi sensori motorik penting dilakukan. Karena di usia itu, area sensori motorik harus banyak distimulasi. Aktivitas fisik dan interaksi secara langsung bisa dilakukan misalnya melalui kegiatan bernyanyi dan bermain.

Jadi, memang sudah menjadi fitrah anak jika mereka sangat aktif dan tidak bisa diam. Alih-alih memberikan mereka gadget, sebaiknya parents memberikan kesibukan lain. Misal, membawa mainannya jika bepergian, buku yang menarik, buku tracing and write, sticker book, dan lain sebagainya yang bisa membuat tangan si anak lebih aktif bergerak dan bisa dilakukan secara duduk.

Dalam studi yang diterbitkan di Journal Pediatrics, instruktur pediatrik klinis di Boston University School of Medicine, Dr Jenny Radesky mengatakan ketika orang tua menyodorkan gadget saat anaknya menangis, si anak memang kemudian diam. Tapi, menurut Jenny, coba perhatikan bahwa anak justru asyik dengan apa yang ditonton dalam layar gadget saja. Mereka sudah tidak memperdulikan lingkungannya lagi. Bahkan mungkin jika dipanggil sudah tidak memberikan reaksi lagi.

Mungkin pada awalnya gadget memang bisa menenangkan anak saat rewel dan ini sangat membantu parents, tapi kemudian bisa jadi malah parents yang akan sangat kewalahan karena anak tidak bisa diam jika tidak diberi gadget. Jika gadget dijadikan alat utama untuk menenangkan atau mengalihkan perhatian anak, mereka akan kesulitan untuk mengembangkan kemampuan regulasi dirinya.

Ketika anak tergantung pada gadget, termasuk televisi, hal tersebut akan membuat perkembangan bahasa dan keterampilan sosial anak menurun. Termasuk juga keterampilan empati, bergaul, memecahkan masalah, kemampuan menjelajah, serta berinteraksi dengan teman sebaya.

Hey parents, play gives children a chance to practice what they are learning. - Mr. Rogers -
Hanya dari bermainlah, anak-anak bisa memiliki kesempatan untuk mempelajari hal baru dalam hidup mereka. Jangan salahkan anak yang tidak bisa berhenti untuk bermain, berlarian, membuat kerusuhan di dalam rumah. Itulah cara mereka belajar dan mengenali lingkungan mereka. Jangan pernah sekali-kali mencoba menyodorkan gadget pada mereka.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 
Hey parents, saat ini adalah saat dimana kecanggihan teknologi menggempur dunia. Dengan perkembangan teknologi yang teramat pesat, kita pun dituntut untuk bisa menaklukkannya. Jika tidak maka kita lah yang akan tunduk pada teknologi.

Beberapa minggu yg lalu beredar kabar mengejutkan dari Jawa Barat tentang adanya anak usia 10 tahun yang mengalami gangguan jiwa akibat kecanduan game dalam smartphone. Bahkan sampai sekarang sudah tercatat ratusan anak yang mengalami gangguan jiwa akibat gawai ini di RSJ Cisarua - Jawa Barat. Semakin hari jumlahnya pun semakin meningkat.

Sebelumnya juga ada berita yang menyebutkan orang tua di Kediri yang dikejutkan atas tagihan telepon pascabayarnya yang mencapai 11 juta akibat belanja game yang dilakukan secara diam-diam oleh anaknya dengan menggunakan identitas Ayahnya. Setelah kasus ini diselesaikan dengan meng-cancel beberapa pembelian tools game tsb, si ibu mengajak para orangtua lainnya agar lebih dekat dan membangun komunikasi dengan anak-anak mereka.

Belakangan ini juga tak jarang kita jumpai balita yang sudah mahir mengoperasikan gadget. Walaupun masih terbatas hanya untuk menonton youtube. Tontonan yang diberikan orang tua dalam youtube itu pun sebenarnya juga masih dalam konten anak-anak. Tapi, durasi menonton itu yang sudah sangat tidak wajar untuk balita. Ketika anak hendak makan, diberikan kebebasan menonton agar bisa duduk diam dan cepat menghabiskan makanan. Ketika menjumpai dokter, agar anak tidak mengacau pun disodorin gadget. Ketika dalam perjalanan wisata atau berkeunjung ke rumah saudara, agar anak tidak bosan disodorin gadget lagi.
Secara tidak sadar, sebenarnya orang tua lah yang pertama kali mengenalkan gadget pada anak-anaknya sendiri bahkan diusianya yang masih sangat dini.

Ketika si anak mulai menunjukkan tanda-tanda candu pada gadget seperti berontak ketika gadget diambil oleh orang tuanya, barulah orang tua sadar selama ini kebiasaan buruk itu telah ia tanamkan sendiri.

Lalu kenapa sih gadget ini bisa secepat itu menarik perhatian anak kita?

Gadget lebih responsif daripada orang tuanya.


Semua gadget saat ini menggunakan fitur touchscreen, dimana cara menggunakannya hanya dengan sentuhan saja sudah bisa mengakses segala kebutuhan kita. Begitu pun ketika anak ingin main game atau pun menonton video kesukaannya, cukup ditowel-towel langsung memberikan hiburan untuk anak-anak.
Pertanyaannya, bagaimana respon parents terhadap anak-anak ketika mereka membutuhkan hiburan untuk bermain dengan parents, apakah parents langsung turun tangan, duduk bersama anak untuk bermain atau membacakan buku kesukaannya? Apa selalu mengatakan "Tunggu, mama repot. Main sendiri dulu!". Hey parents, serepot apapun kalian, tolong jangan membuat anak sampai menunggu hingga jenuh hanya untuk bisa bermain dengan kalian. Jika begini terus menerus anak pasti akan mencari pelarian untuk menghibur dirinya sendiri.


Gadget lebih interaktif daripada orang tuanya


Dengan koneksi internet yang tanpa batas, anak akan dengan mudah mengakses segala keingintahuannya dalam internet. Ketika ingin mengetahui suatu hal, anak tinggal merekam voice note dalam google search dan mereka akan mendapatkan jawabannya. Atau ketika ingin nonton kartun kesukaanya, semuanya sudah ada dalam list most watched dalam you tube. Semua kebutuhan untuk memuaskan keingintahuan mereka hingga hiburan pun bisa mereka dapatkan hanya dari gadget.
Pertanyaannya, bagaimana reaksi parents selama ini jika anak melontarkan pertanyaan cerdasnya? Sudah cukup kah kita memuaskan keingintahuan anak? Atau malah hanya sekedar acuh terhadap setiap hal yg ingin anak tunjukkan pada kita?
"Ma, kenapa kok awan berwarna putih yaa?"
"Ah udah dari sononya begitu."
Coba klo anak tanya pada google atau di you tube. Wah bukan hanya penjelasan aja yg mereka dapatkan tapi juga diberi gambar visualisasi yang jelas dan menarik.


Gadget tidak memiliki emosi dan tidak pernah marah


Gadget akan merespon apapun yang anak butuhkan dengan cepat. Kalau pun anak marah karena mungkin jaringan lemot, gadget tidak akan marah balik sama anak.
Pertanyaannya, bagaimana parents menyikapi anak yang sedang emosi? Bisa menenangkan atau malah balik memarahinya? Jika jawabannya ada pada pilihan kedua, jangan salahkan kalau anak lebih nyaman bermain dengan gadget yang tidak pernah memarahi anak.


Gadget selalu siap diajak main kapan saja


Jika parents meletakkan gadget ditempat-tempat yang mudah dijangkau dan tersedia jaringan internet yang cepat, anak akan lebih tertarik bermain dengan gadget. Karena gadget sudah tersedia dan kapan pun anak butuh hiburan yaa tinggal ambil saja.
Pertanyaannya, kemana kah paremts selama ini hingga anak mudah sekali mengakses gadget di rumah? Sesibuk itu kah hingga menjadikan gadget sebagai teman bermain anak? Hey parents, please open up your mind!! Masa kecil anak kalian yang penuh dengan dunia bermain pasti akan cepat berlalu, mau kalian sia-siakan begitu saja tanpa memberikan bonding yang kuat antara anak dan orang tua dengan cara bermain bersama? Think!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me

About MeRead More

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Categories

  • bunda
  • candu game online
  • candu smart phone
  • gadget
  • game
  • ibu
  • imajinasi
  • imajinasi anak
  • interaksi
  • karakter
  • kecerdasan emosional
  • kecerdasan ibu
  • kecerdasan intelektual
  • kecerdasan sosial
  • kecerdasan spiritual
  • kejujuran
  • mama
  • parents
  • parents and kids
  • pembiasaan
  • pendidikan
  • pendidikan karakter
  • pengasuhan
  • pola asuh
  • smartphone
  • teknologi
  • tumbuh kembang anak

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • November 2019 (2)
  • Oktober 2019 (4)
  • September 2019 (3)
Diberdayakan oleh Blogger.

Laporkan Penyalahgunaan

Mengenai Saya

Foto saya
fatmawati19
Lihat profil lengkapku

Cari Blog Ini

Popular Posts

  • (tanpa judul)
    (tanpa judul)
    Dear Ayah Ibu, Seberapa sering kalian mengatakan I LOVE YOU Kepada anak-anakmu? Kalau saya pribadi & suami Sangat sering mengat...
  • Pentingnya Daya Imajinasi Anak
    Pentingnya Daya Imajinasi Anak
    Hey Mama, Einstein pernah berpendapat bahwa imajinasi itu lebih penting dari pada ilmu pengetahuan. Melalui imajinasi akan tercipta hal-h...
  • Ajarkan Nilai Kepemimpinan pada Anak Laki-Laki
    Ajarkan Nilai Kepemimpinan pada Anak Laki-Laki
    Hey Mama, mendidik seorang anak laki-laki sama dengan kita membangun sebuah peradaban. Anak lelaki kita saat ini adalah calon imam kelua...
  • Home

Like Us

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates